NILAI KOMBINASI INTELLECTUAL PROPERTY DALAM VALUASI

 

 

Pengadilan Pajak di California, Amerika Serikat yang melibatkan harta kekayaan (Alm.) Michael Jackson antara Estate of Michael J. Jackson (Deceased) (selanjutnya diacu Estate saja) dengan Kantor Pajak Amerika Serikat (the Internal Revenue Service, atau disingkat IRS) menarik perhatian terkait nilai pasar wajar dari hak publisitas (right of publicity) almarhum mencakup nama dan citranya.

Sebagai latar belakang case ini bisa dibaca di tulisan Robert W. Wood berjudul “Even After Death, Michael Jackson Has to Deal with the IRS”.

http://www.americanbar.org/publications/blt/2013/10/03_wood.html (diakses pada tanggal 18 Februari 2017).

Bahkan Blomberg menurunkan satu artikel pada tanggal 1 Februari 2017 menarik yang ditulis oleh Devin Leonard berjudul “Michael Jackson is Worth More Than Ever, and the IRS Wants Its Cut”, yang mengulas sengketa terkait valuasi Estate of Michael Jackson. Di sini IRS mengklaim bahwa Estate seharusnya dinilai sebesar USD 434 juta, dan bukan sebagaimana yang dinyatakan oleh Estate hanya sebesar USD 2.105. Estate mengklaim hanya nilai USD 2.015 karena pada saat wafatnya, almarhum sedang menghadapi banyak masalah skandal.

(lihat https://www.bloomberg.com/news/features/2017-02-01/michael-jackson-is-worth-more-than-ever-and-the-irs-wants-a-piece-of-it, diakses pada tanggal 18 Februari 2017)

Tulisan Michael Cohn pada tanggal 8 Februari 2017 juga membicarakan hal ini, dimana diberikan judul “Court Hears IRS Dispute over Value of Michael Jackson Estate”).

(lihat https://www.accountingtoday.com/news/court-hears-irs-dispute-over-value-of-michael-jackson-estate, diakses pada tanggal 18 Februari 2017)

Dalam prapengadilan, pihak Estate mengajukan permohonan agar pihak Pengadilan Pajak tidak menggunakan (exclude) laporan valuasi yang diterbitkan oleh ahli intellectual property Weston Anson (CONSOR) dengan pertimbangan beberapa alasan. Salah satunya, pihak ahli Anson memasukkan nilai untuk usaha yang sangat spekulatif, seperti Michael Jackson taman bermain (theme park). Namun sebagai alasan terbesar keberatan pihak Estate adalah bahwa laporan valuasi mencakup kombinasi (mash-up) dari berbagai hak (rights) yang berbeda-beda, dimana pihak Estate menyebutkan hal ini menyalahi ketentuan peraturan di Amerika Serikat bahwa setiap item intellectual property wajib dinilai secara terpisah. Kombinasi hak-hak yang berbeda-beda disebutkan meliputi nilai nama Michael J. Jackson dan foto/gambar (likeness), dan katalog hak-hak penerbitan (publishing rights), bersama-sama dengan nilai aset lainnya yang dimiliki almarhum pada saat wafatnya, yaitu hak dagang (trademarks), hak cipta (copyrights) di musik dan hak almarhum sendiri untuk menerima royalty sebagai penampil (performer).

Menarik membaca tanggapan dari hakim Pengadilan Pajak di Amerika Serikat, Mark V. Holmes yang menyatakan bahwa laporan valuasi Anson tidak seharusnya dikecualikan atau tidak dipertimbangkan.

Dikutip seutuhnya, dikatakan:

This is an especially interesting legal question. In a world without transaction costs, it wouldn’t matter if publishing rights, performance royalties, trademarks, etc. were valued separately because a rational buyer would value them as if they could be put together in the most profitable way even if they were bought separately. But it is entirely possible that trial will show that these separate rights would be more valuable if used together. If so, and if the Estate owned these separate rights, it might well be the case that they are worth more together than they would be if summed separately.

Terjemahan bebas:

Ini adalah pertanyaan legal yang cukup menarik. Dalam suatu dunia tanpa biaya transaksi (catatan: Penulis teringat dunia ideal teori M&M dalam manajemen keuangan), bahwa tidaklah menjadi masalah jika hak-hak penerbitan, royalti penampilan, hak dagang, dan lain-lain dinilai secara terpisah atau tersendiri-sendiri karena seorang pembeli yang rasional akan menilai seluruh hak-hak tersebut seakan-akan seluruh hak-hak tersebut dapat ditempatkan dan dimanfaatkan dalam cara-cara yang paling mendatangkan keuntungan, sekalipun masing-masing hak-hak tersebut diperoleh secara terpisah. Akan tetapi sangat mungkin bahwa pengadilan akan dapat menunjukkan bahwa hak-hak yang terpisah ini akan lebih berharga (atau nilai keseluruhan akan lebih tinggi) jika hak-hak tersebut dipergunakan secara bersama-sama (catatan Penulis: akan ini berarti manfaat sinergi?). Jikalau demikian, dan jika pihak Estate memang memiliki hak-hak terpisah ini, ada kemungkinan yang baik bahwa keseluruhan  hak-hak tersebut akan memiliki nilai yang lebih tinggi daripada kalau nilai masing-masing hak-hak itu dijumlah secara terpisah.

 

Keputusan Hakim Mark V. Holmes tertanggal 3 Februari 2017 dapat dibaca dalam lampiran tulisan ini dalam bentuk pdf.

 

Membicarakan manfaat “sinergi” [Catatan: pihak Akuntan punya nama tersendiri, yaitu “goodwill” untuk kehadiran sinergi?]  dalam valuasi dan kemudian berusaha memecah-mecah ke dalam masing-masing aset (baik tercatat atau tidak tercatat di neraca atau laporan posisi keuangan), merupakan tantangan tersendiri. Banyak hal-hal yang berusaha diperkenalkan oleh para ahli valuasi, terkait ini, misalnya dalam konteksi valuasi nilai korporasi atau bisnis, adanya konsep “normal or normalized earnings/margin”, “[positive, negative] abnormal earnings/margin”, “excess earnings/margin”, “competitive margin”, yang kadang bisa menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda, termasuk data yang akan digunakan. Isu yang lain, apakah dipakai “accounting [book value] earnings/margin” atau “economic earnings/margin”?

 

Penulis juga teringat akan buku Determining Value: Valuation Models and Financial Statements oleh Richard Barker (Essex (England): Pearson Education Limited. 2001. Halaman 109), yang menyebutkan:

 

An intractable valuation problem is that this total value cannot be disaggregated across each of the assets individually. This is due to synergy between assets. A company does not create value simply by holding assets. It creates value by means of a judicious combination of expenditure decisions, in areas as diverse as recruitment, product, developments, plant construction, advertising, service delivery and operations management. It is the combined effect of each of these resource allocations that gives rise to an income stream, and thereby to a value for the company as a whole. Viewed in this way, it is unclear what the term “value” means when applied to individual assets in the balance sheet. An individual asset may have a market price, as discussed above, but its value to the company will depend inextricably upon its relationship with all other resources deployed by the company. [Catatan: bagian yang dipertebalkan, disengaja untuk penekanan].

 

 

Dari yang dikatakan oleh Richard Barker, kehadiran “sinergi” antara aset berwujud (tangible assets) dan tidak berwujud (intangible assets), dan “item yang saat ini belum teridentifikasi (oleh akuntan), yang bisa ada wujud atau tidak berwujud, namun umumnya dalam level tertentu tetap ada wujudnya, misalnya hasil print-out (unidentifiable items)” sangat krusial untuk terciptanya “nilai” (value). Walaupun secara umum dikatakan bahwa terlepas apapun item tersebut, mau diberi label, termasuk yang saat ini belum banyak diberi “nilai” dalam laporan keuangan perusahaan misalnya manajemen, proses pengambilan keputusan, sumber daya manusia, standar prosedur operasional, rantai pemasokan (supply chain), teknologi informasi, bahan-bahan dan tepat sasar program-program marketing, eksekusi program yang terarah dan terukur, namun semuanya diyakini dan memang sudah terbukti, bersama-sama, melalui hubungan dan interaksi (relationship and interaction) yang kompleks akan sangat diperlukan guna terciptanya kemampuan perusahaan atau bisnis dalam menghasilkan pendapatan (revenue), laba (earnings) dan arus kas bebas (free cash flow).

 

Kemampuan masing-masing item dalam memberikan kontribusi bagi terciptanya kemampuan perusahaan/bisnis mendatangkan pendapatan, laba dan arus kas bersih, niscaya justru tidak signifikan, namun melalui interaksi itulah yang menjadi kunci sangat krusial. Artinya, masing-masing item mungkin saja bernilai rendah, namun pada saat dikombinasi, di-bundle dalam suatu proses, akan mendatangkan nilai yang tinggi.

 

Dua diagram ini di bawah ini bisa memberikan gambaran kehadiran “hubungan/interaksi” diantara para sumber daya menurut penulis jauh lebih penting dalam penciptaan nilai.

 

Diagram 1: Value Map – Identifikasi Sumber Daya

 

Sumber: Brand Finance Plc

 

Diagram 2: Value Map – Pengelompokan Sumber Daya dan Menaksir Nilai Kontribusi

 

 

Sumber: Brand Finance Plc

 

Kedua diagram di atas diambil dari tulisan Tim Heberden berjudul Intellectual Propery Valuation and Royalty Determination (yang dimuat dalam buku berjudul International Licensing and Technology Transfer: Practice and the Law, editor Adam Liberman, Peter Chrocziel dan Russell Levin. Pemuktahiran tahun 2011 yang diterbitkan oleh Wolters Kluwer Law & Business).

 

(berlanjut…..)

 

Jakarta, 18 Februari 2017

Lampiran

US Tax Court 2017 Estate of Michael J. Jackson vs Commissioner of IRS

 

Posted in ARTICLES & VIDEOS, VALUATION.

Leave a Reply